saat yang tampak menjadi tak tampak

Sekilas kalu dibaca kok ngeri ya? ah sudahlah..

Apa kabar semua? Semoga semua dalam limpahan rahmat dan lindungan Allah SWT. Malam-malam begini sebenarnya otak saya lagi eror — kebanyakan mikir yang gak penting. Lalu terlintas sebuah topik seperti pada judul di atas. Hmm.. mari kita awali dari hal-hal yang biasanya terjadi di keseharian kita. Seperti membuka mata. Ada yang tanya kenapa? kalau gak ada yang tanya ya sudah saya lanjutkan sendiri.

Membuka mata setelah beristirahat atau sebut saja tidur, merupakan hal yang biasa saja. Memang. Tapi, apa tetap biasa saja saat mata itu tak dapat terbuka kembali? Katakanlah tidur dan .. untuk seterusnya. Seram. 

tumblr_lxvanrDfdG1qiq51lo1_1280.jpg

Saya pengidap insomnia. Pernah.. tidak.. beberapa kali.. dulu.. saya susah sekali untuk bangun. Bukan karena saya tidak mau bangun — masih ngantuk — melainkan karena saya tidak bisa membuka mata saya. Kejadian ini terjadi saat saya kelas 4 SD. Saya sakit parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Saat itu saya pertama kalinya merasakan jarum infus yang menembus kulit saya untuk beberapa hari proses penyembuhan. Saya sejak awal sudah trauma dengan rumah sakit. Almarhum nenek saya pernah dirawat dan meninggal di rumah sakit yang sama tempat saya dirawat. Jika kalian yang bertanya kenapa saya takut jarum suntik, tentu karena itu masih berhubungan dengan rumah sakit. So, sekarang kalian tahu alasannya.

Saya ditempatkan diruang kelas 1. Ruang itu berisi dua ranjang pasien dan saya memakai salah satunya. Saat itu saya satu-satunya pasien di kamar itu. Kamar yang terletak di hunian belakang rumah sakit. Waktu itu ada sebuah lapangan yang cukup luas dan di seberang sana terdapat bangunan sekolah yang sudah tak terpakai. — aduh, kalau diingat bagian itu kok serem ya. Saat itu sudah malam ketiga — seingat saya. Saya malam itu ditemani dengan emak saya (bukan keluarga saya, namun sudah cukup dikenal baik dan dianggap sebagai saudara oleh keluarga saya) — sekarang, almarhum emak — untuk tidur dan menjaga saya malam hari. Orang tua saya sudah menemani di hari sebelumnya dan harus mengurus beberapa keperluan lain di luar.

Saat itu saya mengalami mimpi yang aneh yang sampai saat ini masih saya ingat dengan jelas. Bisa dibilang mimpi buruk — berhubung kita tidak boleh membicarakan mimpi buruk, kita skip saja untuk detail ceritanya. Dalam tidur, saya yang tidur di ranjang merasa badan saya berputar dan kepala saya berada di ambang kasur — seperti akan jatuh dengan kepala dulu. Di saat yang sama saya tidak bisa bernafas. Sekuat tenaga saya berusaha bernafas kembali. Rasa sesak itu yang membuat saya ingin bangun. Akan tetapi seperti sebuah permainan, saya berjuang untuk bernafas dan bangun. Hal yang paling tidak bisa saya lupakan. Cukup lama saya bergulat dengan hal itu. Dada saya seakan didekap oleh entah apa itu. Saya mencoba bernafas melalui mulut dan hanya sedikit sekali oksigen yang bisa saya dapat. Saya pasrah.

Keajaiban muncul dengan saya dapat kembali bernafas normal, dan pada akhirnya saya dapat terjaga — membuka mata saya. Saya sadar itu bukan hanya sekedar mimpi. Posisi tidur saya agak merosot dan jantung saya masih berdegup kencang atas kejadian itu. Banyak yang bilang saya ketindihan (orang jawa bilang diduduki set*n). Mungkin karena saya lupa baca doa, atau mungkin juga karena faktor lain-lainnya. Entahlah, siapa yang tahu.

Pagi hari setelah kejadian itu, orang tua saya datang dan merawat saya. Emak, seingat saya pulang setelah itu. Saya berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit karena saya sudah merasa lebih baik. Bahkan dokter sendiri heran dengan kondisi saya. Saya bertemu dengan sepupu saya bernama Winda. Rupanya dia baru pulang bersama teman-teman sekolahnya dan berjalan melewati gedung sekolah lama yang berseberangan dengan kamar rawat saya (biasanya jadi tempat main favorite anak SD setelah pulang sekolah, karena kebetulan ada sekolah SD tidak jauh dari rumah sakit). Perasaan saya adem — sejuk. Mungkin juga karena di lapangan depan kamar rawat saya ada pohon mangga besar yang cukup rindang. Dan dihari itu ternyata ada pasien baru yang jadi teman sekamar saya.

setelah 5 hari opname, saya diijinkan pulang. Dan lama setelah itu, orang tua saya baru bilang, kalau orang yang dirawat di ruangan yang sama bersamaku itu.. meninggal tidak lama kemudian. Innalillahi Wa’innailaihiroji’un. Padahal saya ingat pasien itu pulang bersama keluarganya dengan kursi roda. Entah mungkin terjadi flip dengan memori saya atau bagaimana…

Terakhir kali mengunjungi rumah sakit itu, tahun lalu (2015). Sepupu lelaki saya terkena musibah dan dirawat di kelas 1 juga. Hmm.. masih di lorong yang sama seperti dulu saya dirawat di sini. Hanya selisih 1 kamar dengan kamar saya dirawat dulu. Bedanya, lapangan itu sudah berubah menjadi taman mini yang cukup indah dengan beberapa pohon mangga dengan lorong seberang untuk kamar pasien VIP dan VVIP. 🙂

Tak ada pemandangan bangunan sekolah usang itu, tak ada lapangan seluas ketika saya dirawat kala itu. Dan saya memberanikan diri mengobservasi bagian belakang kamar VIP. Di sana terdapat kantin dan disampingnya mushola kecil. cukup bersih, tapi.. sepi. walau kantin rumah sakit cukup ramai, saat saya masuk ke mushola untuk mengecek kamar kecilnya — mulai merinding — saya seperti terisolasi di bagian lain rumah sakit. Saya segera kembali untuk menemani sepupu saya. Rumah sakit ini, masih memiliki beberapa sudut masa lalunya. Dan trauma saya.. masih tidak berubah. Tak jarang saya harus menutup mata dan berpegangan erat dengan orang tua saya ketika melewati spot rumah sakit tertentu. “Karena yang nampak menjadi tak tampak”. Mungkin bisa dibalik juga, “Ketika tak tampak menjadi tampak”.

Do you have a special ability to see something different? — sixth sense? Just if you know what i mean.

Jika ditanya, saya.. tidak memiliki sepenuhnya seperti mama saya. Ability beliau lebih kuat, dan saya cuma kacangan. Jadi, saya tidak melihatnya menyerupai bentuk asli seperti yang beliau lihat. Namun seperti sebuah bayangan.

Rabu pagi ini.. bersama teman sekamar yang juga belum tidur.. (Hotaru sibuk sendiri) dan suara gemericik air keran — yang bocor — sekian utuk cerita malam/ Rabu pagi ini.. yang tidah jelas dan tidak bermanfaat ini. wkwkwkw XD selamat petang

Advertisements

2 thoughts on “saat yang tampak menjadi tak tampak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s